Jakarta – Cepat atau lambat, topik perdebatan seputar mobil listrik bakal bergeser. Saat ini, topik pembicaraan mobil listrik masih sekitar seberapa ramah lingkungannya mobil tersebut. Namun nanti, apa yang harus dilakukan dengan limbah baterainya.

Sebagai mobil listrik pertama dan paling sukses di dunia, Nissan Leaf dengan cepat memasuki produksi ke-10 tahun. Dunia mungkin akan segera dihadapkan dengan masalah limbah baterai lithium-ion yang sulit dibuang.

Melansir Autoevolution, Jumat (23/3/2018), hanya dua pembuat mobil yang telah mengumumkan rencana untuk proses daur ulang baterai mobil listrik.

Pertama, grup otomotif asal Perancis, PSA. Mereka mengumumkan pada Februari lalu bakal menguji penggunaan baterai masa pakai kedua dari mobil listrik Renault. Baterai tersebut untuk penyimpanan listrik yang berasal dari tenaga surya dan angin di pulau-pulau di Kepulauan Madeira, Portugal.

Kedua, baterai limbah Nissan Leaf sudah didaulat untuk menunjang panel surya sumber listrik lampu jalan di kota Namie, Jepang.

Sistem yang dikembangan oleh Nissan bersama 4R Energy Corporation dapat beroperasi sepenuhnya tanpa kabel listrik. Teknologi ini akhirnya bisa digunakan di daerah terpencil, di mana tidak ada energi atau setelah bencana alam dan ketika jaringan listrik diturunkan.

Jika pengujian awal yang dilakukan pada 26 Maret terbukti berhasil, Nissan berencana untuk membuat sistem dalam skala besar, dan menjanjikan untuk menjadi teknologi yang mengubah dunia.

“Kami akan mengubah penyebaran mobil listrik menjadi peluang untuk menyebarkan baterai,” ujar Nissan.

“Kami percaya itu bisa mengubah dunia. Bahkan ketika baterai tidak lagi berfungsi untuk menggerakan mobil, baterai dapat terlahir kembali untuk melayani manusia,” tambahnya.

Untuk detail rencana ini, bakal diumumkan setelah pengujian pekan depan.

Artikel asli : http://www.liputan6.com/otomotif/read/3399950/baterai-limbah-nissan-leaf-untuk-komponen-penerangan-kota

WhatsApp WhatsApp us